VARIASI RAGAM BAHASA MAHASISWA INDONESIA DAN RELEVANSI TEORI LABOV
Abstract
Artikel ini merupakan telaah naratif mengenai ragam bahasa di kalangan mahasiswa Indonesia tahun 2024–2025, dengan fokus pada relevansi teori William Labov tentang pengaruh variabel sosial (usia, gender) terhadap variasi bahasa. Studi ini mensintesis temuan dari jurnal-jurnal open access terindeks SINTA, Scopus, dan DOAJ (10 sumber, tahun 2024–2025) tentang penggunaan ragam bahasa mahasiswa. Hasil kajian menunjukkan bahwa mahasiswa menggunakan berbagai ragam (formal, informan, slang, lokal) sesuai konteks sosial dan komunikasi sehari-hari. Misalnya, Damayanthi et al. (2023) melaporkan bahwa di kelas daring ITB STIKOM Bali mayoritas mahasiswa lebih sering menggunakan ragam bahasa lisan santai (66%) dibanding lisan baku (34%), serta ragam tulis tidak baku (78%) dibanding tulis baku (22%). Ragam informal dan slang juga dominan dalam interaksi mahasiswa (misalnya bahasa gaul dalam media sosial), yang selanjutnya berpengaruh pada kualitas penggunaan bahasa baku. Penelitian lain menyoroti faktor lokasi dan latar sosial: Ambarwati et al. (2024) menemukan bentuk ragam konsultatif, santai, dan akrab pada mahasiswa rantau, serta pengaruh penggunaan bahasa Jawa lokal di kampus terhadap pola bahasa sehari-hari mereka. Ulhanah et al. (2025) menegaskan bahwa variasi dialek (misalnya dialek Brebes) di kalangan mahasiswa rantau di UNNES dipengaruhi oleh faktor geografis dan sosial. Secara keseluruhan, temuan-temuan terkini ini konsisten dengan teori Labov, di mana variabel sosial (usia, gender, kelompok sosial) terbukti memengaruhi variasi ragam bahasa. Dengan kata lain, Labov (1966) masih relevan dalam konteks mahasiswa Indonesia, karena pola variasi bahasa tetap dikaitkan dengan identitas sosial dan situasi komunikasi.
